Book Review : Still oleh Esti Kinasih

STILL

RATING : ★★★★☆

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2006
Harga : Rp. –
Jumlah halaman : 224 halaman
ISBN : 978 – 979 – 22 – 2537 – 2

Untuk seseorang yang teraih di puncak Gede, namun akhirnya terlepas di ketinggian Pangrango.

Belum apa-apa prolog-nya Still udah gini gaes 🙂

Amarah itu mematikan hati. Dan melukai. Menutup maaf, dan menciptakan benci (hal 19)

Rei  masih tidak terima dengan cara Langen memenangkan pendakian bersama waktu itu. Masih membekas dalam ingatannya saat Langen berdiri tegak di atas batu besar itu dengan membuka hampir seluruh tubuh bagian atasnya.

Langen menggigit bibir. Pelukan Rei benar-benar menyakitkan. Terasa seperti akan mematahkan tulang. Sama sekali tidak tersisa ruang untuk bergerak (hal 36)

Jangan dilepas kalau tidak yakin, Rei mendengar hatinya berbisik mengingatkan. Tapi ini pertarungan terakhir,sang ego langsung berteriak. Dan dia menang.
“Kita selesai selesai di sini!” ucap Rei kemudian.
Langen diam. Pelukan sakit dan dingin itu telah memperingatkan (hal 36)

Berbeda dengan Langen yang hubungannya diakhiri oleh Rei, Bima justru baik-baik saja dengan Fani. Malah Fani yang akhirnya menggila dan memberontak. Dia mencari cara mati-matian biar bisa putus sama Bima.

Ada bagian dimana Fani dan Bima kejar-kejaran di kampus. Bukan kejar-kejaran dalam makna yang sebenarnya, tapi Fani bersembunyi dan Bima mengikuti terus sampai akhirnya Fani tidak bisa kemana-mana lagi. Bima disini digambarkan seperti orang yang psikopat. Ini hal yang aku kurang suka dari Still. Padahal belakangan Bima digambarkan sebagai sosok yang ‘rapuh di dalam’.

Singkat kata akhirnya setelah perjuangan Fani, dia pun putus dengan Bima. Fani senangnya bukan main. Tapi itu sementara. Perlahan dia merasa ada yang hilang.

First cut is the deepest. Dari manapun cinta itu datang, dari arah yang benar atau pun salah, torehan pertamanya selalu jadi yang paling menyakitkan. Mungkin kita membuka seluruh hati. Mungkin juga karena dia membutakan, hingga tanpa sadar kita melepaskan semua pertahanan diri dan membayangkan versi terindah semua fairytale yang pernah kita baca atau dengar (hal 154)

Buku ini sad story, which is favorit aku. Jadi inti cerita sedih di buku ini adalah selama Rei dan Langen putus dan selama Fani dan Bima putus. Aku kurang suka dengan cover Still. Buku ini menggunakan POV 3. Selain kedua pasangan ini, Still juga memuat tentang Febi dan Rangga walaupun porsinya tidak banyak. Ending-nya Still happy ending.

Dan aku selalu suka kalimat-kalimat Esti Kinasih dalam menggambarkan situasi 🙂

tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s