Book Review : Coppelia oleh Novellina A

Started : 15 Juli 2015 – Finished: 17 Juli 2015

615171004_coppelia_novellina_a

RATING : ★★★★☆

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2015
Harga : – (buntelan dari BBI untuk di-review)
Jumlah halaman : 192 halaman
ISBN : 978 – 602 – 03 – 1810 – 3

Buku ini bukan merupakan karya pertama dari Novellina. Tetapi, Coppelia adalah buku pertama Novellina yang aku baca. Aku mendapatkan buku ini gratis dari Blogger Buku Indonesia (BBI) sebagai buntelan untuk di-review (YIPPIE!!)


First Sight :
Pertama kali aku melihat kover buku ini di-share oleh Blogger Buku Indonesia (BBI) aku langsung tertarik. Kovernya memang tidak berwarna-warni. Warna basic kover ini putih, simple sekali. Ada gambar boneka penari balet disana. Kenapa aku tau itu adalah boneka ? Karena di punggungnya digambarkan semacam putaran seperti untuk mainan pada umumnya, dan juga digambarkan tali untuk mengatur pergerakan boneka tersebut.

Dan hal utama yang menarik perhatianku adalah judul buku ini ditambah potongan bagian terakhir dari sinopsisnya : sedingin kisah boneka Coppelia yang begitu dicintai ibunya. Karena sebelumnya aku belum pernah mendengar tentang kisah Coppelia ini, tentu akan sangat menyenangkan membaca buku ini dan tau hal baru.


Stories :
Buku ini bercerita tentang Nefertiti seorang penari balet yang memutuskan keluar dari Santorini yang selama ini menjadi tempat ia mengasingkan diri. Disana dia bertemu dengan Angeliki dan anaknya Theos yang menderita Selective Mutism yaitu suatu kondisi dimana seseorang hanya bisa bicara dalam keadaan dan atau dengan orang tertentu. Setibanya disana Nefertiti mengetahui bahwa ibunya sudah hampir sebulan menghilang. Oliver yang memberitahunya. Oliver adalah tetangga sekaligus teman semasa sekolah Nefertiti yang tidak sengaja bertemu dengan ibu Nefertiti di Berlin. Oliver sendiri sudah sejak lama mencari Nefertiti sejak ia menghilang dan tidak lagi di Indonesia. Dan lagi Oliver menyukai Nefertiti sejak dulu.

Buku ini mengangkat konflik keluarga sebagai topik utamanya. Antara Nefertiti dengan ibunya. Nefertiti merasa bahwa ia tidak memiliki bakat apapun yang bisa membuat ibunya bangga. Sementara ibunya merasa Nefertiti tidak senang bila bersamanya. Bahwa anak itu hanya senang jika bersama dengan ayahnya saja.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu Nefertiti ? Kenapa dia menghilang ? Apa yang terjadi dengan Oliver dan Nefertiti setelah mereka bertemu ? Temukan kisah selengkapnya di Coppelia !


I Love From “Coppelia” :

Aku suka dengan penggambaran karakter Nefertiti di dalam buku ini sebagai tokoh utama. Gelap dan tidak tersentuh. Penggambarannya konsisten dari awal hingga akhirnya. Aku suka dengan banyaknya istilah-istilah yang baru untukku di dalam buku ini. Istilah-istilah dalam balet, istilah Pottery yang berarti keramik, Antigen yang berarti zat yang merangsang respon imun, dsb. Di halaman paling awal sudah ada penjelasan mengenai Coppelia. Ini yang berbeda, karena biasanya penjelasan mengenai judul begini seringnya diselipkan di dalam ceritanya. Aku juga suka pembagian cerita menurut sudut pandang Oliver dan Nefertiti. Tiap bab membuat pembaca mengetahui hal baru, tidak mengulang-ulang part yang sebelumnya. Cara penulis mengakhiri buku ini juga unik. Tidak jelas happy atau sad ending-nya, sehingga membuat pembaca penasaran dengan akhir cerita sebenarnya. Aku juga suka dengan lagu yang digunakan untuk soundtrack buku ini, The Hardest Part – Coldplay. Karena kata-katanya sesuai sekali.


I Hate From ” Coppelia” :

Ada beberapa bagian cerita yang menurutku kurang jelas. Seperti hanya sekedar lewat saja untuk melengkapi detail. Penyebab konflik antara Nefertiti dan ibunya tidak jelas diungkapkan dalam buku ini.


Quotes :

Aku pikir hanya ada batas tipis antara tidak pernah dan sekali,maka hari itu aku belajar banyak bahwa ada perbedaan besar di satu kali kesempatan (Hal 28)

Ada sesuatu yang tidak pernah kita lupakan meski sudah terjadi puluhan tahun lalu. Tapi ada juga yang tidak bisa kita ingat meski baru saja terjadi (Hal  86)

I am the queen of mediocre , the king of nothingness (Hal 113)

Luka karena kehilangan seseorang yang sangat kau cintai tak bisa begitu saja berkurang oleh waktu. Ada kalanya kau merasakan sakit yang beratus-ratus kali lipat (Hal 117)

Aku tidak takut tidak bisa melihatnya lagi, tapi aku takut aku akan mati karena tidak bisa terlepas dari kenangannya (Hal 117)

Tidak  pernah ada saat yang tepat untuk mengabarkan berita buruk. Dan tidak ada cara paling mudah untuk memberitahu. Berita buruk seperti penyakit. Manusia tidak memintanya, dia datang begitu saja (Hal 125)

tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s