Book Review : The Way We Were oleh Sky Nakayama

Started : 01 September 2015 – Finished : 04 September 2015

18008284

RATING : ★★☆☆☆

Penerbit : GagasMedia
Tahun Terbit : 2013
Harga : – (hadiah dari GagasMedia karena menjadi peserta #LoveCycle)
Jumlah halaman : 257 halaman
ISBN : 979 – 780 – 536 – 7

Buku ini aku dapatkan dari GagasMedia sebagai hadiah hiburan setelah mengikuti event #LoveCycle. Lucunya, sebelum buku ini aku terima aku lagi mau swap book sama Ka Indri dan Ka Indri nawarin buku ini. Tapi aku milih buku yang lain. Surprise ! Udah kayak berjodoh taunya besoknya buku ini udah sampe dengan sukses di rumahku hehe. Ini pertama kalinya aku membaca tulisan Sky Nakayama, dan sejauh pemantauanku sebelum aku membaca buku ini, buku ini mendapat rating yang kurang baik di Goodreads. Tapi namanya pendapat dan selera kan beda-beda ya, aku harus dibaca dulu baru boleh komentar *eaaa. Let’s start !


First Sight :
Aku cukup suka dengan kover buku ini. SANGAT simpel. Ada gambar tangan, yang aku defenisikan kayak ‘minta tolong’ gitu dan kedua tangan yang diatas berusaha menjangkau dia. Aku gak tau apa memang visualisasi seperti ini yang dimaksudkan penulis apa tidak, tapi setelah dihubungkan dengan isinya sepertinya gambaran versiku tadi masih masuk akal haha. Aku suka dengan warna biru muda. Jadi udah pasti aku lebih gampang tertarik dengan kover buku ini.


Stories :
Buku ini bercerita tentang Laut (yeah unik ya namanya, mungkin ini juga alasan penempatan warna biru di kover tadi) yang memiliki masalah dengan keluarganya. Dia merasa ibunya memperlakukannya berbeda dengan kakaknya Marina dan abangnya Dennis. Karena itulah akhirnya Laut memutuskan tinggal di Bandung dan kuliah disana, biar jauh sama keluarganya. Laut hanya memiliki satu sahabat yaitu Alin, itupun Alin di Jakarta, untunglah Alin rajin mengunjunginya.

Di Bandung, Laut tanpa sengaja berkenalan dengan seorang bernama Oka saat laki-laki itu sedang ‘mengamen’. Semakin lama Laut dan Oka semakin sering bertemu dan berteman. Oka yang sejak awal udah mulai suka sama Laut tentu berusaha sebisanya untuk selalu di dekat Laut membantunya tiap ia butuh. Laut yang juga sudah mulai berkenalan dengan sahabat Oka, Kei. Mereka beberapa kali pergi berempat. Karena pergi berempat ini jugalah Alin mulai menyukai Kei.

Apakah Laut merasa yang sama dengan Oka ? Bagaimana dengan Alin dan Kei ? Temukan jawabannya di The Way We Were !


I Love From “The Way We Were” :
Aku sangat suka dengan buku yang memiliki konflik keluarga. Semakin kompleks aku semakin suka. Buku ini menyajikan konflik keluarga yang menurutku cukup menarik. Karena biasanya jarang seorang ibu digambarkan seperti tokoh ibu Laut di buku ini. Aku suka dengan karakter Oka, menurutku dia sweet sekali. Perhatiannya ke Laut dan caranya menyukai Laut juga gak egois. Gak maksa. Aku suka dengan kata-kata Laut soal kereta api di stasiun, karena aku juga suka liat kereta api yang berangkat.


I Hate From “The Way We Were” :
Sayang sekali sepertinya penulis melupakan banyak detail di buku ini. Aku lupa di halaman berapa tapi ada diceritakan Laut dan Oka lagi di Bali, mereka jalan bareng dan sandal Laut putus di jalan. Akhirnya Oka ngegendong Laut sampe ke penginapannya. Tapi di dekat penginapannya, Laut ngeliat tante Kartika dan begitu Oka pamit dia langsung ngejar tanpa pake sandal. Dia buru-buru. Tapi di halaman berikutnya diceritakan dia akhirnya ketemu tante Kartika dan mereka makan bareng. Makan di restoran, tanpa diceritakan soal sandal tadi. Makannya masa … nyeker… ?

Lalu penggambaran karakternya kurang kuat dan tidak konsisten. Perasaan Laut sangat cepat berubah, demikian dengan ending tokoh Kei. Terlalu cepat twist-nya, terlalu buru-buru. Nama karakter Kei juga menurutku agak rancu. Aku sempat mengira kalo dia adalah perempuan. Tapi sampe di halaman 90-an aku baru tau dia adalah laki-laki.

Terus penyebab awal ibu Laut memperlakukan Laut secara berbeda, bahkan terkesan benci sampe nyuruh Laut jangan pulang lagi, dsb itu gak dijelaskan. Sampe ending aku gak nemu jawabannya.


Quotes :

If you don;t like something, change it. If you cannot change it, change your attitude (hal 114)

Kalau memang sudah waktunya seseorang terluka, dia akan terluka (hal 239)

tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s