Book Review : Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi oleh M. Aan Mansyur

Started : 17 Oktober 2015 – Finished : 21 Oktober 2015

25623876

RATING : ★★★★☆

Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Harga : – (Gratis dari GagasMedia untuk event #KadoUntukBlogger)
Jumlah halaman : 264 halaman
ISBN : 979 – 780 – 816 – 5

Buku ini aku dapatkan sebagai hadiah dari GagasMedia karena menjadi salah satu pemenang di event #KadoUntukBlogger (yeaaayy, thankyou Gagas!). Buku ini adalah karya pertama Aan Mansyur yang aku baca. Awalnya aku merasa ini adalah salah satu buku ‘berat’ dan aku pasti bakalan stuck membacanya. Aku sempat berencana menukarkan buku ini kepada teman

lainnya, tapi batal. Lalu aku melihat profil buku ini di Goodreads, dan berpikir “sepertinya buku ini boleh juga”. Ya begitulah, takdir mempertemukan aku dengan sang Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (shedap)


First Sight :
Aku sangat menyukai kover buku ini walaupun belum terlalu mengerti hubungan kover dengan isi cerita, tapi kovernya bagus. Judul yang agak panjang sebenarnya agak mengganggu tapi justru termasuk salah satu faktor penarik perhatian.


Stories :
Buku ini bercerita tentang Jiwa dan masa lalunya. Jiwa digambarkan sebagai seorang anak laki-laki yang mengidap kelainan pada jantungnya dan juga memiliki kebencian pada laki-laki karena sejak kecil ia ditinggal oleh ayahnya entah kemana. Jiwa juga adalah lelaki yang mengagumi neneknya dan mencintai ibunya. Jiwa adalah orang yang menyukai hujan, dan dia menikmati setiap tetes air itu jatuh, dia menganggap Hujan adalah nama seorang gadis ‘diatas sana’ yang sedang menangis.

Ada saatnya ingatan akan kelelahan
dan meletakkan masa lalu di tepi jalan.
Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada.
Menepikannya ke liang lupa.
Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya,
masa lalu mungkin akan berbaring abadi
di halaman-halamannya.

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi sesungguhnya adalah buku harian Jiwa yang diterbitkan oleh Tenry sahabat Jiwa setelah Jiwa meninggal dunia. Buku ini memuat perjalanan hidup Jiwa, termasuk saat Jiwa dipertemukan dengan banyak karakter (termasuk banyak wanita) yang memberikan Jiwa banyak pelajaran. Demikian saat Jiwa bertemu Nanti.

Bisa dibilang menurutku buku ini romantis sekaligus miris. Jiwa adalah seorang laki-laki yang dari kecil jarang sekali menangis, tetapi judul Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi ini kurasa dimaksudkan bahwa sebenarnya berat usaha yang Jiwa lakukan untuk berdamai dengan masa lalu, tapi disisi lain Jiwa bisa menikmati tinggal dengan kenangan-kenangan itu.

Buku harian ini adalah alur mundur, sedangkan catatan-catatan kecil yang dibuat oleh Nanti adalah alur maju sehingga buku ini terkesan menggunakan alur maju-mundur. Catatan Nanti sendiri sangat berperan dalam cerita ini untuk beberapa kisah, karena dia menjelaskan yang mungkin kurang jelas diungkapkan oleh Jiwa, tapi untuk beberapa bagian justru Nanti menjadi ‘pengganggu’ yang memberikan catatan-catatan kurang penting.

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi adalah buku yang puitis.


Something (+) From ‘Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi’ :
Selain menyukai kovernya, aku suka dengan rasa penasaran yang diciptakan Aan Mansyur untuk buku ini. Aku rasa setiap pembaca buku ini akan bertanya-tanya sebenarnya kisah ini adalah kisah si penulisnya, atau memang hanya fiksi. Menariknya di beberapa bagian, buku ini membuat kita merasa sedang membaca kisah Aan Mansyur itu sendiri, tapi di bagian lainnya kita dibuat kembali merasa bahwa ini adalah kisah Jiwa. Aku juga suka dengan nama-nama karakter utama di buku ini. Jiwa, Nanti, Hari, Bulan, Mimpi, dll.

Aku suka dengan banyaknya hal-hal yang aku rasa bisa mengubah paradoks orang banyak, contohnya saat Jiwa merasa lebih berguna saat dia bergabung dengan komunitas perpustakaan punggung dibanding hanya ikut berdemo dan mencaci maki di jalanan. Aku setuju. Seringnya kita hanya menjadi orang yang mengkritik hal-hal yang tidak beres, tetapi tidak berusaha membuat barang sedikitpun untuk perubahan yang lebih baik.

Aku suka dengan banyaknya kalimat-kalimat puitis di dalam buku ini yang membuatku ‘berpikir’.Dan terakhir, aku menyukai saat dimana Jiwa dan Nanti membangun Perpustakaan Terakhir untuk mereka berdua, yang sayangnya di ujung cerita malah menjadi tempat Jiwa menyendiri.


Something (-) From ‘Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi’ :


Quotes :

Semua orang pernah disakiti, dan salah satu kebahagiaan langka dalam hidup ini adalah melihat orang yang menyakiti kita menyadari kesalahannya (hal 1)

Takdir adalah kesimpulan bagi orang-orang yang mudah putus asa dan malas berpikir (hal 5)

Kenangan punya banyak cara untuk menjerat dan membunuh pemiliknya (hal 7)

Ingatan adalah perihal yang sunguh-sungguh aneh. Lengannya bisa menjangkau jauh ke masa lampau, tetapi kadang tidak mampu menyentuh hal-hal yang baru saja berlalu (hal 9)

Kehidupan setiap orang adalah kisah yang rumit. Waktu adalah penyunting yang baik hati. Waktu tidak menghapus apa pun. Ia juga tidak menyembuhkan luka, seperti yang diyakini banyak orang. Waktu cuma mengembalikan dan menunjukkan sejumlah potongan yang menurutnya penting dibaca kembali (hal 11)

Hidup itu seperti selimut yang terlalu pendek. Jika kau menariknya ke atas, kakimu akan kedinginan. Jika kau menariknya ke bawah, kepalamu akan menggigil (hal 88)

Ada orang yang akan menunjukkan hal-hal yang harus kau ikuti. Ada juga orang yang akan menunjukkan hal-hal yang harus kau hindari (hal 100)

Dalam hidup ini, ada banyak hal yang bisa selesai kita lakukan meski kita tidak percaya kita mampu melakukannya. Ada sejumlah hal yang tidak membutuhkan banyak pikiran, sebab pikiran adalah tempat paling nyaman bagi keraguan (hal 105)

Jangan melewati kesedihan dengan membabi buta. Jika kamu berhasil melewatinya, sisa hidupmu akan menjadi jauh lebih baik.  Atau, jika kau mampu, bersahabatlah dengannya. Kesedihan bukanlah musuh bagi manusia (hal 201)

Hati itu seperti gelas ajaib. Rentan pecah, tapi meski pecah berkali-kali, dia masih bisa digunakan mencintai lagi (hal 220)

Kenangan adalah bukti terbaik untuk mengatakan tidak ada yang utuh di bumi ini, bahkan kehilangan (hal 249)


tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s