Book Review : Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita

Started : 24 Oktober 2015 – Finished : 25 Oktober 2015

25082874

RATING : ★★★★★

Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2015
Harga : Rp 54.000
Jumlah halaman : 278 halaman
ISBN : 979 – 780 – 786 – x

Aku udah memasukkan buku ini ke dalam wishlistku sejak pertama aku melihat GagasMedia nge-share soal buku ini di jajaran coming soon-nya. Aku tertarik dengan potongan sinopsis yang dishare. Puji Tuhan kesampean juga beli buku ini dan senangnya buku ini

keren ! YIPPIEE !


First Sight :
Aku suka dengan kover buku ini, karena warna dan gambarnya. Judul dan nama penulis juga mendapatkan posisi yang pas di kover ini. Singkat kata, kover ini enak dilihat.


Stories :
Kiri Lamari adalah seorang polisi yang baru saja pindah tugas dari Bojonegoro ke Surabaya. Sebuah insiden kecil di Stasiun Wonokromo mempertemukannya dengan seorang anak kecil bernama Ireng. Dengan bantuan Ireng, Kiri ‘diantarkan’ langsung kerumah tempat terjadinya kasus pembunuhan, disanalah dia langsung dihadapkan dengan sebuah kasus yang melibatkan seorang psikopat yang sangat sadis dan mengerikan. Pelaku membunuh korbannya dengan membiusnya terlebih dahulu menggunakan jarum akupuntur. Lalu setelahnya korban dibedah dan semua organ dalamnya dikeluarkan agar memperlambat proses pembusukan. Bahkan otak korban juga dikeluarkan. Lalu seluruh tubuhnya dilumuri garam, dan korban dimasukkan ke dalam oven raksasa. Sehingga korban menjadi mirip dengan patung garam.

Intuisi Kiri mengatakan bahwa mereka sudah menemukan pelakunya. Tapi orang tersebut memiliki alibi, sehingga Kiri dan Saut (atasannya) agak kesulitan membuktikannya. Kiri dan Saut semakin gencar melakukan penyelidikan hingga ke Bojonegoro untuk mendapatkan bukti demi bukti. Pelaku yang mulai merasa terancam dengan gerakan penyelidikan Kiri, mengancam Kiri dengan menguntit Kenes Alida, kekasih Kiri. Kiri dan Saut, mulai berpacu dengan waktu untuk menemukan pelaku Misteri Patung Garam ini, karena korban mulai berjatuhan lagi.

Apakah mereka berhasil menemukannya ? Temukan kisahnya di Misteri Patung Garam !


Something (+) From ‘Misteri Patung Garam’ :
Selain kover yang sudah menarik perhatianku seperti yang kusebutkan diatas, aku suka dengan karakter-karakter dalam buku ini. Kiri, Kenes, Ireng, Saut dengan kalimat khasnya : kampret rebus (hahaha) dan semua karakter lainnya sifatnya konsisten hingga akhir cerita.

Misteri Patung Garam menggunakan alur maju. Aku sangat menikmati membaca buku ini, gak bisa berhenti karena penasaran. Aku suka dengan plot twist yang penulis ciptakan di buku ini. Memang menebak siapa pelakunya bukan hal sulit karena ditengah-tengah buku pun pembaca sudah bisa menebak, yah walaupun kalian yang sudah menebak pasti akan sedikit tertipu lagi di akhir cerita. Penasaran yang paling bikin gak bisa berhenti baca adalah penasaran akan motif pelakunya. Dan aku gak bisa mendapatkan motifnya hingga penulis membeberkannya.

Aku suka dengan kisah masa lalu Kiri yang membebaninya, jujur saja aku pernah berada di dalam posisi yang sama dengan Kiri dan memaafkan itu tidak pernah mudah. Beban berat bukan hanya pada yang bersalah, tapi yang tidak memaafkan juga sesungguhnya membawa beban berat. Berdamai dengan diri sendiri itu susah hehe. Aku nangis dong pas di bagian Kiri bilang dia memaafkan bapaknya, itu emosional sekali menurutku.

Aku juga suka dengan banyaknya hal baru yang aku dapat dari buku ini, contohnya adalah mengenai Danau Natron di Tanzania, cara mengeluarkan otak melalui hidung (OMG!), memberikan efek bius dengan menggunakan jarum akupuntur, dan banyak lagi. Tentu penulis membutuhkan riset untuk bisa menuliskan hal tersebut.

Aku suka dengan buku ini, dan sangat berharap bisa membaca tulisan Ruwi Meita yang lainnya.


Something (-) From ‘Misteri Patung Garam’ :


Quotes :

Kadang yang tak terduga adalah kunci jawabannya (hal 30)

Berjalanlah seperti kereta api dan tetaplah pada jalurmu, maka kamu akan aman (hal 65)

Jangan kamu simpan semuanya dalam hati. Itu hanya akan mencekikmu perlahan dalam kepahitan. Sangat berbahaya. Sebab itu tak hanya merusak hatimu, tapi juga fisikmu (hal 177)

Ada kalanya diam itu berarti sebuah pelarian dan kekalahan. Sebab kamu tak mau tahu atau memperbaiki (hal 177)

tiaraorlanda ♣

Advertisements

2 thoughts on “Book Review : Misteri Patung Garam oleh Ruwi Meita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s