Book Review : Nightfall oleh Robin Wijaya

Started : 11 Desember 2015 – Finished : 13 Desember 2015

Nightfall

RATING : ★★★☆☆

Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun terbit : 2014
Harga : – (Baca di Ijakarta)
Jumlah halaman : 300 halaman
ISBN : 978 – 602 – 025 – 205 – 6

Robin Wijaya adalah salah satu penulis favoritku sejak bukunya yang berjudul Before Us. Menurutku Robin Wijaya memiliki kemampuan meramu cerita yang biasa saja menjadi lebih menarik untuk dibaca. Selain menyukai tiap tulisannya, aku senang karena menurutku dia orang yang ramah kepada pembacanya. Mengingat buku-bukunya terdahulu, aku memiliki ekspektasi agak tinggi dengan buku ini meskipun sedikit bisa menebak, bahwa ciri khas Robin Wijaya akan tetap terasa.


First Sight :

Sejujurnya menurutku, gambar kover Nightfall kurang menarik. Tapi aku suka perpaduan warna kovernya, dan menyukai font, tampilan nama penulis serta judul bukunya yang sangat jelas letaknya.


Stories :

Dimulai dari Gio yang ketauan berselingkuh, Natalie sudah merasa bahwa liburan mereka di Italia ini akan berantakan. Saat akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan mereka, Natalie juga memutuskan untuk mempercepat jadwal kepulangannya.

Saat menunggu di ruang tunggu bandara, Natalie bertemu dengan pria bernama Kris Halmer yang sedang membaca buku War and Peace. Karena membangunkan Natalie yang ketiduran saat dipanggil oleh petugas bandara, mereka pun akhirnya bercakap-cakap. Singkat cerita, saat akan berpisah karena penerbangan Kris sudah datang, Kris menawarkan ‘undangan’ pada Nat untuk berkunjung ke Seattle, tempat Kris tinggal. Dia meninggalkan buku yang sedang ia baca untuk Nat, menuliskan email, dan nomor telepon.

Beberapa bulan kemudian, saat memutuskan akan berangkat ke Seattle untuk memenuhi undangan Kris, Nat memutuskan akan menyempatkan mengunjungi Ben, orang di masa lalu Nat di Richland. Sekaligus dnegan maksud membantu Ben bangkit lagi keterpurukannya sejak ditinggal oleh kekasihnya Stefania yang sudah meninggal dunia.

Kisah apa sebenarnya yang akan Natalie, Ben dan Kris hadapi ? Simak kelanjutannya dalam Nightfall !


Something (+) From ‘Nightfall’ :

Aku suka dengan sedikit twist dalam buku ini. Ya walaupun tertebak, tapi sedikit mengaduk perasaanku juga. Aku suka karena buku ini memuat banyak kalimat-kalimat yang menarik untuk dikutip. Aku juga suka dengan kedekatan Gabriel dan Nat sebagai kakak-adik. Akrab sekali. Penulis juga mampu memancarkan rasa hangat dari cerita ini dengan kemampuannya merangkai kata-kata. Aku suka dengan pembagian bab yang dibagi menurut sudut pandang tiap tokoh, dan tiap tokoh tidak banyak mengulang kejadian di bab sebelumnya. Aku juga suka dengan ide insiden pertemuan di bandara antara Kris dan Nat, hidup memang selalu punya kejutan.


Something (-) From ‘Nightfall’ :

Aku menemukan kalimat yang diulang dalam buku ini dan jaraknya berdekatan, “menenangkan, merangkum sejumlah kenangan”. Aku merasa Nightfall kurang meninggalkan ‘jejak’ saat selesai dibaca, seperti bukan khas Robin Wijaya.


Quotes :

“Traveling adalah perjalanan untuk mewujudkan mimpi lama dan membuat mimpi yang baru” Hal 43)

“Lebih baik ciptakan ide sederhana, tapi eksekusi dengan cara yang besar. Daripada mempunyai ide besar tapi eksekusinya payah” (Hal 86)

Senja adalah pembatas hari. Ketika siang dan malam bertukar peran. Ketika terang dan gelap bertemu (Hal 112)

Sederhana saja, setiap orang butuh rumah (Hal 118)

Segala bentuk hubungan pasti akan diisi dengan kecewa, tak peduli seberapa kuat usaha manusia untuk menghindarinya (Hal 144)

Tak ada hidup yang baik-baik saja, tak ada langit yang tanpa hujan, tak ada kesempurnaan yang betul-betul abadi (Hal 144)

Jika kita memakan buah, kita harus siap menanggung resiko getah yang tercecer di dalamnya (Hal 144)

Ada kalanya keluarga tak selalu mampu menyentuh hati seseorang, dan peran tersebut diambil oleh seorang teman (Hal 213)

Kalau kau mau melangkah, melangkahlah yang jauh sekalian. Karena kalau hanya pergi satu dua langkah jauhnya, besar kemungkinan kau akan kembali ke tempat sebelumnya (Hal 218-219)

Kalau kau memasukkan terlalu banyak perasaan untuk sebuah masalah, kau tidak akan pernah melihat titik terang sebagai jalan keluar  (Hal 271)

Dalam perasaan, ada esensi logika yang berperan (Hal 271)

Semua yang terjadi adalah cara takdir membangun hidup kembali (Hal 283)

tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s