Book Review : Sabtu Bersama Bapak oleh Adhitya Mulya

Started : 02 Mei 2016 – Finished : 03 Mei 2016

22544789

RATING : ★★★★★

Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2014
Harga : –
Jumlah halaman : 278 halaman
ISBN : 978 – 979 – 780 – 721 – 4

Stories :

27 Desember 1991

Pak Gunawan berada di dalam gambar. Dia tampak segar dan cerah ceria.
“Hai, Satya ! Hai Cakra !” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.”


Inilah potongan video pertama dari Bapak yang diputarkan di hari Sabtu. Sejak hari itu, setiap Sabtu Ibu rutin memasangkan satu persatu video untuk Satya dan Cakra yang sudah Bapak persiapkan sebelum dia ‘pergi’. Kegiatan mereka berdua pun berubah hingga remaja. Mereka sengaja mengosongkan Sabtu sore mereka untuk menonton video Bapak, Sabtu Bersama Bapak.

Satya, adalah anak sulung dari keluarga Garnida. Satya tampan, sering bergonta-ganti pacar semasa sekolah sesering ganti baju. Kini Satya sudah menikah dengan Rissa dan memiliki 3 orang anak laki-laki ; Ryan, Miku dan Dani. Pekerjaan Satya sebagai Geophysicist di Norse Oil og Gas (NOG) mengharuskan mereka sekeluarga pindah ke luar negeri dan Satya terpaksa jarang pulang kerumah. Perlahan Satya merasa ada yang salah dengan keluarganya. Rumah yang selalu berantakan penuh mainan setiap dia pulang, masakan Rissa yang terkadang tidak pas, ah rasanya selalu ada perdebatan dengan Rissa setiap dia pulang ke rumah.

Adalah Cakra Garnida, seorang Deputy Director di POD Bank yang sudah beberapa lama menjomblo. Berbeda dengan Satya, si bungsu ini cenderung lebih pendiam, tidak setampan kakaknya, dan terkadang sangat garing. Hari itu di kantor dia bertemu seorang wanita, Ayu namanya. Dan saat itu dia yakin, dia menyukai Ayu. Sayangnya Cakra terpaksa bersaing dengan Salman, teman sekantornya yang terkenal sangat piawai berbicara.

Dulu Pak Gunawan pernah berkata, bahwa semasa anak-anak mereka tidak merepotkan orang tua. Untuk itulah dia mempersiapkan segalanya. Agar Ibu Itje -istrinya- siap, dan tidak perlu takut.
“Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak.” Begitulah kalimat yang diucapkan Pak Gunawan, dan ucapan itu selalu diingat olehnya. Dia akan berusaha tidak merepotkan Satya dan Cakra, selama dia masih bisa berusaha sendiri. Termasuk saat akan menghadapi meja operasi ini.

Baca kelanjutannya di Sabtu Bersama Bapak !


Something (+) From ‘Sabtu Bersama Bapak’ :
Aku suka sekali sama buku ini. Parah ! Aku suka kovernya. Tapi kover aslinya ya, karena aku emang gapernah suka sama buku dengan kover film hehe. Aku suka penggambaran karakter yang kuat. Setiap tokoh kuat dan bisa membuat ikatan emosi denganku sebagai pembaca. Aku suka betapa tiap orang di buku ini digambarkan bagai malaikat, baik-baik semua. Semoga masih ada ya kayak Bapak, Cakra atau Satya di dunia nyata. Aku mau pesan 1. *eh* Buku ini penuh dengan pesan moral, penuh. Udah kayak novel, sekaligus buku parenting, sekaligus buku self help. Aku juga suka dengan ide cerita buku ini, kreatif. Dimana alur flashbacknya dibawa dengan cara memutarkan video-video dari Bapak.


Something (-) From ‘Sabtu Bersama Bapak’ :


Quotes :

“Planning is everything.” (Hal 18)

Selesaikan masalah sebelum masalah itu datang (Hal 30)

Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain (Hal 51)

Meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf (Hal 80)

Harga diri kita tidak datang dari barang yang kita pakai. Tapi datang dari akhlak kita (Hal 119-120)

Berapa kali kamu jatuh itu gak penting. Yang penting berapa kali kamu bangkit lagi (Hal 130)

Akan ada masanya kalian harus melawan orang. Yang lebih besar. Lebih kuat. Dan ada masanya kalian gak punya pilihan selain melawan dan menang. Akan datang juga masanya, semua orang tidak akan membiarkan kalian menang (Hal 130)

Mimpi hanya baik jika kita melakukan planning untuk merealisasikan mimpi itu. Jika tidak, hanya akan buang waktu saja (Hal 150)

Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain (Hal 217)

♣ tiaraorlanda 

Advertisements

2 thoughts on “Book Review : Sabtu Bersama Bapak oleh Adhitya Mulya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s