Book Review : Hujan oleh Tere Liye

Started : 05 Mei 2016 – Finished : 05 Mei 2016

28446637

 

RATING : ★★★★☆

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Harga : –
Jumlah halaman : 320 halaman
ISBN : 978 – 602 – 032 – 478 – 4

Stories :
Lail, selalu suka hujan. Tiap peristiwa penting dalam hidupnya selalu terjadi saat hujan. Demikian hari itu, saat Lail dan ibunya akan berangkat ke sekolah Lail. Saat Lail sedang memperhatikan hujan gerimis sambil mendengarkan berita di televisi dalam kapsul, saat itulah sebuah bencana terjadi. Bencana dalam skala

mematikan. Dan hidup Lail sejak hari itu tidak pernah sama lagi.

Bencana hari itu membuat Lail kehilangan banyak hal tetapi sepertinya takdir menggantikannya dengan kehadiran Esok, anak lelaki yang membantunya naik dari tangga darurat saat bencana itu terjadi.

Sejak itu Lail dan Esok selalu bersama. Kemana saja berdua. Sampai akhirnya mereka terpaksa berpisah karena Esok diadopsi keluarga angkat dan harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan sekolah ke universitas di Ibu Kota sementara Lail harus pindah ke Panti Sosial karena sudah tidak memiliki tempat tinggal. Disinilah Lail bertemu dengan Maryam, gadis berambut kribo yang akan menjadi teman sekamarnya dan sekaligus sahabat baiknya.

Bencana hari itu mengubah banyak hal termasuk alam dunia. Iklim berubah ekstrim dan berbagai isu dunia pun mulai mengisi Breaking News di televisi. Semakin hari, semakin parah. Bukan hanya itu, semakin hari Lail pun sadar, bukan hanya iklim dunia yang berubah, tapi juga perasaannya kepada Esok. Perasaannya kini ternyata bukanlah lagi perasaan seorang gadis berusia 13 tahun yang dulu Esok selamatkan.

Baca selengkapnya di Hujan !


Something (+) From ‘Hujan’ :
Aku suka covernya. Gambarnya sudah jelas menginterpretasikan judulnya. Aku penasaran dengan buku ini karena judulnya. Karena aku pun memiliki suatu kenangan personal (yang tidak mengenakkan) dengan hujan. Aku suka cerita buku ini, aku rasa buku ini termasuk dalam genre fantasi. Dan aku suka. Memang tidak semengagumkan Bumi, tapi Hujan punya ‘rasa’nya sendiri. Lebih emosional. Alurnya maju-mundur. Seperti sebelumnya, penulis bisa membawa perasaanku ikut masuk ke dalam cerita yang dia ciptakan. Sehingga pas baca buku ini aku cuma baca sehari dan penasaran parah sama endingnya, sama inti ceritanya. Aku juga suka sama bahasan-bahasan mengenai isu iklim dalam buku ini, aku kurang tau apakah benar hal seperti itu bisa terjadi di Bumi ? Sumpah serem parah kalo iya. Aku suka cara Tere Liye menyampaikan pesan bahwa ‘menerima’ itu penting. Bahkan menerima hal-hal paling menyakitkan pun penting. Karena menerima ternyata akan membuat kita merasa lebih tenang dan lebih baik.


Something (-) From ‘Hujan’ :
Beberapa bagian sempat membuat aku bosan, karena selalu ada kata-kata yang diulang setiap Lail kembali dari flashbacknya. Beberapa bagian ceritanya kayak stuck karena tokohnya yang pasifnya setengah mati. Beberapa pembahasan mengenai isu iklim dunianya pun ada yang aku skip baca karena aku agak kurang paham. Aku merasa kurang terikat dengan sosok Esok, karena bagaimana perasaannya kurang ditampilkan, sehingga aku pun kurang paham dengan sikapnya yang maju-mundur.


Quotes :

Karena kehilangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit ? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya (Hal 201)

Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan (Hal 318)

tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s