Book Review : Ketika Hujan oleh Orina Fazrina

Started : 25 Oktober 2016 – Finished : 26 Oktober 2016

ketika-hujan

RATING : ★★★★☆

Penerbit : Chibi Publisher
Tahun terbit : 2013
Harga : – (Baca di Aplikasi iJakarta)
Jumlah halaman : 130 Halaman
ISBN : 978 – 979 – 254 – 855 – 6

Stories :
Hana benci laki-laki. Ia takut apabila berdekatan dengan laki-laki termasuk Otou-san dan jarak teramannya dengan mereka adalah 3 meter. Tak hanya itu, Hana pun alergi dengan hujan.  Ia mual dengan bau basah yang ditimbulkan oleh hujan dan selama hujan ia akan muntah-muntah bahkan tak jarang hingga pingsan. Hana tak tahu apa yang menyebabkan semua itu. Setidaknya itu dimulai dari delapan tahun yang lalu.

Hari itu sehabis hujan berlangsung sepanjang malam, Hana terpaksa bangun pagi karena itu adalah hari pertamanya memasuki kampus. Hari pertama ia kuliah.  Tapi bukannya menyenangkan hari pertama ia malah sudah jatuh hingga terkilir karena berusaha didekati dan diajak berkenalan oleh seorang lelaki bernama Dino. Untung saja sahabatnya, Anggi menolongnya dan segera membawanya pergi.

Tak hanya dipertemukan dengan Doni, Hana pun lantas bertemu dengan Adrian tanpa sengaja. Mereka berdua adalah teman semasa kecil Hana. Bahkan mereka memiliki dongeng semasa kecil, Dewi Hujan, panggilan untuk Hana. Dewa Petir, panggilan untuk Dino, dan Dewa Awan panggilan untuk Adrian. Sayangnya, Hana tidak sedikit pun mengingat siapa mereka berdua dan seperti apa kedekatan mereka dulu. Hanya yang Hana tahu, dengan Adrian ia merasa nyaman dan tidak takut. Itu saja.

Banyak ingatan yang terlupa oleh Hana. Ingatannya bagai kotak pandora. Mungkin seharusnya kotak itu tak pernah dibuka ?

Baju kelanjutannya di Ketika Hujan !


Something (+) From ‘Ketika Hujan’ :
Suprisingly aku cukup menyukai buku ini. Karena ini adalah buku dengan sad story. Aku bahkan meneteskan air mata di beberapa part, khususnya di bagian Dino memegang tangan Hana dan mengatakan : “dari dulu kau memang tak meyukaiku.” Aku suka karena buku ini berisi konflik keluarga, yaitu konflik antara Hana dan Otou-san nya. Sangat menyentuh dan terasa realistis. Aku juga suka karena buku ini mengambil unsur psikologi seperti traumatis yang melatar belakangi Hana menjadi benci laki-laki dan alergi hujan.


Something (-) From ‘Ketika Hujan’ :
Sepertinya ada bagian yang kurang konsisten, yaitu saat dikatakan Hana tidak menge nal Dino padahal di bagian lain diceritakan saat mendaftar pertama kali di kampus Hana sudah melihatnya dan langsung mengenalinya. Budaya Jepangnya tidak terlalu banyak dibahas padahal sepertinya di awal cerita lekat sekali mengingat Hana adalah orang Jepang. Tapi ternyata hanya sekilas saja. Seputar panggilan-panggilan, beberapa kebiasaan Jepang dan boneka teru-teru bozu saja. Ya walaupun di sisi lain itu adalah keuntungan untukku karena aku sering kesulitan menghafal arti panggilan-panggilan dalam bahasa asing seperti Otou-san, Okaa-san, Sebu, dan sebagainya.


Quotes :

Lebih menyakitkan lagi karena aku tak bisa jadi alasan Otou-san tetap di sisi Okaa-san (Hal 18)

Melupakan. Kata yang mudah diucapkan, namun terlalu menyakitkan jika didengar (Hal 45)

Berdamai. Satu kata yang perlu jutaan menit untuk membuatnya nyata (Hal 117)


tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s