Book Review : Tiga Bianglala oleh Misna Mika

Started :  02 Oktober 2016 – Finished : Oktober 2016

18743458

RATING : ★★★★☆

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2013
Harga : – (Baca di Aplikasi iJakarta)
Jumlah Halaman : 304 Halaman
ISBN : 978 – 979 – 22 – 9919 – 9

Stories :
Tiga Bianglala bercerita tentang kehidupan seorang anak kecil bernama Itut yang tinggal di Kampung Bala, pinggiran kota Palembang. Ia tinggal di rumah sempit dan hidup sangat miskin dengan kelima orang saudara serta ayah ibunya.

Setiap hari dia bersekolah dan bermain bersama sahabat baiknya, Manna. Berdua mereka melakukan kegiatan juga kenakalan bersama. Mencuri mangga, menyewa sepeda, hingga berjualan es bungkus.

Seiring berjalannya waktu, Meimei yang merupakan teman sekolah mereka juga akhirnya memasuki pertemanan mereka dan mereka jadi bersahabat bertiga. Dari situlah ide memberi nama Tiga Bianglala muncul.

Itut dengan kehidupannya yang miskin dan semakin susah sejak ayahnya meninggal dunia, Manna yang sering dimarahi oleh nenek tirinya serta tak bisa tinggal bersama sang ayah lantaran selalu dibenci oleh si ibu tiri juga Meimei yang dianggap aneh karena etnisnya yang berbeda. Bertiga mereka saling menguatkan dan saling memberi semangat. Berjanji selalu

bersama dan saling membantu. Suatu hari ada sebuah mobil mewah memasuki Kampung Bala dan mengubah hidup ketiganya.

Simak kelanjutannya dalam Tiga Bianglala !


Something (+) and (-) From ‘Tiga Bianglala’ :
Aku penasaran sama buku ini dari pertama kali melihat kovernya. Aku tidak memiliki ekspektasi apa pun hanya berpikir ceritanya pasti akan ringan dan fun mengingat ini adalah genre teenlit. Aku agak terkejut saat membaca buku ini. Ceritanya menarik karena tokoh-tokohnya masih anak kecil, masih duduk di bangku SD serta tempat tinggalnya yang berada di pinggiran kota menjadikan cerita ini terasa jadul, tapi  tetap menarik.

Menurutku buku ini kurang cocok berada di lini teenlit dengan tokoh yang berada di bangku SD itu, tapi mungkin mengingat Gramedia Pustaka Utama tidak memiliki lini sasaran dibawah teenlit lagi, sepertinya menjadi alasan Tiga Bianglala masuk ke dalam lini teenlit.

Celotehan, kepolosan dan ketidaktahuan anak-anak ini menjadi faktor komedi tersendiri bagiku. Contohnya saat mereka minum soda dan hidung mereka sakit, saat mual menaiki kapal, dan sebagainya. Komentar-komentar mereka lucu sekali.

Hal yang kurang pas selain penempatan lini menurutku adalah adanya cerita romansa ala-ala dalam buku ini dimana anak-anak ini digambarkan menyukai teman lelakinya tapi menurutku berlebihan, terlalu dewasa. Mengingat mereka masih SD dan dalam buku ini pun digambarkan sangat polos, rasanya romansa ala-ala ini agak memecah konsistensi karakternya.

Lalu mungkin karena halaman yang terlalu banyak atau beberapa cerita yang datar saja, di beberapa bagian aku sempat merasa bosan, tapi aku memaksa diri untuk tidak melewatkan paragraf apapun agar tidak kehilangan keseruan tingkah Itut dan teman-temannya.

Ditengah buku-buku yang ceritanya kekinian, Tiga Bianglala seperti membawaku bernostalgia dengan masa kecil. Suka sekali.


tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s