Book Review : Jingga dan Senja oleh Esti Kinasih

7717066.jpg

RATING : ★★★★☆

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2010
Harga : –
Jumlah Halaman : 312 Halaman
ISBN : 978-979-22-5431-0

Stories :

Pada cewek yang selama hampir satu jam ini telah dilindunginya dari panas matahari, Ari menatapnya sesaat kemudian melangkah pergi. 

Pada tubuh tinggi dibalut kemeja yang kini basah kuyup karena keringat, yang telah melindunginya dari panas matahari selama hampir satu jam tadi, Tari terus menatap kepergiannya dalam ketersimaan.

Tari, gadis penggila warna orange itu resmi memasuki SMA Airlangga hari ini. Takdir mempertemukannya dengan Ari, si pentolan sekolah yang ternyata kebetulan bernama sama dengannya. Upacara yang seharusnya menjadi hal yang biasa saja itu pun, ternyata menjadi titik balik kehidupan Tari dan merubah hari-hari Tari selanjutnya di SMA Airlangga !

Tak hanya pertemuannya dengan Ari yang mendadak merubah hari-harinya, tapi nampaknya takdir sedang bermain-main dengan kehidupan Tari hingga Tari bisa terjebak di situasi genting saat tawuran SMA Airlangga dengan SMA Brawijaya. Yang juga menyebabkannya bertemu dengan pentolan Brawijaya, Angga. 

Harapan ini adalah harapannya yang terbesar
tapi akan menjadi yang paling menghancurkan seandainya tidak terjadi
Dia memohon, dengan seluruh darah yang mengalir dalam tubuhnya

Ari yang selama ini terkenal dingin pada cewek mendadak berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Bahkan dengan cara yang tanpa Ari sadari telah membuat Tari semakin ingin menjauhinya.

Baca selengkapnya di Jingga dan Senja !


Something (+) dan (-) from “Jingga dan Senja” :

Tema inti cerita ini adalah teenlit pada umumnya, mengenai kehidupan anak remaja SMA. Cuma memang balutannya menarik. Bikin buku ini menurutku tidak bisa dipandang teenlit ‘biasa’. Balutan konfliknya membuat cerita ini ‘berisi’ untuk ukuran teenlit.

Konflik demi konflik disusun sedemikian rupa dan beberapa tak selesai hingga ending, membuatku penasaran ingin segera membaca sekuel buku ini.

Kepintaran Mbak Esti Kinasih dalam menceritakan detail membuatku bisa merasakan dengan mudah perasaan tokoh maupun situasi yang ada di dalam cerita.

Sejauh aku membaca aku tidak menemukan hal apapun yang menggangguku atau tidak aku sukai dari buku ini.


Quotes :

Ada batas keterpurukan bagi setiap orang , yang berbeda satu sama lain. Dan untuk Ari, batas itu tidak bisa dipakai terlalu lama. Karena di sini bukan hati yang dipakai untuk barometer, tapi reputasi (Hal 159)

“Apa sih yang gue takutin?” Ari membuka kedua matanya, berbicara pada dirinya sendiri. “Toh gue udah lama ancur.” (Hal 167)

 tiaraorlanda ♣

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s